Adab Berteman

Adab-adab dalam berteman

Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam menyatakan :

HR. Al-Bukhari no. 660, Muslim no. 1031

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ؛ إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلِّقٌ بِالـمَسَاجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصَبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللهُ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالَهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينَهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَا
“Tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan pada saat dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah 'Azza wa jalla: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seseorang yang hatinya senantiasa terkait dengan masjid, dua orang yang saling cinta karena Allah 'Azza wa jalla, bersatu dan berpisah di atasnya, seseorang yang diajak berzina oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan kecantikan namun pemuda tersebut berkata, ‘Aku takut kepada Allah’, seseorang yang bershadaqah dan ia menyembunyikan shadaqahnya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta seseorang yang berdzikir kepada Allah 'Azza wa jalla sendirian hingga meneteskan air mata.”(HR. Al-Bukhari no. 660, Muslim no. 1031)

1. Orang / teman yang lebih tua harus kita muliakan

Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W :

عن ابن عباس – رضي الله عنها – عن رسول الله r قال: «ليس منَّا من لم يوقِّر الكبير, ويرحم الصغير, ويأمر بالمعروف وينهى عن المنكر». [رواه أحمد والترمذي وابن حبان في صحيحه].

Dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhai keduanya, dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berkata: “Bukan termasuk dari kami [1] orang yang tidak menghormati yang lebih tua [2], dan tidak menyayangi yang lebih kecil [3], serta orang yang tidak memerintah pada kebaikan dan mencegah perbuatan munkar”.  [HR Ahmad, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya]

          Maksud dari perkataanya: ‘Orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua’, yaitu tidak menunaikan haknya dengan memuliakan dan menghormati mereka. Menghormati orang yang lebi tua dari kita merupakan suatu cara dan adab yang sangat di anjurkan di dalam Islam. 

2. Menyayangi teman yang sepadan, seumur, atau lebih mudah dari kita

         Arti dari sabdaRasulullah diatas : "Tidak menyayangi yang lebih kecil", ialah berlaku lemah lembut kepada yang lebih kecil yaitu dengan membimbing dan mengajarinya, karena menghormati orang yang lebih besar, dan menyayangi orang yang lebih kecil, kemudian memerintahkan pada suatu kebaikan serta mencegah dari kejelekan termasuk sunnah para Nabi dan Rasul, sehingga barangsiapa yang enggan mengikuti petunjuk mereka maka mereka di katakan tidak termasuk meniti jalan para Nabi dan Rasul secara sempurna. Dan di dalam hadits ini menunjukkan atas keutamaan orang yang berbudi pekerti yang luhur seperti berakhlak yang mulia dan agung, serta adanya ancaman bagi yang berpaling dari itu semuanya.

dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلَّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang lebih muda di antara kami dan tidak mengerti hak orang yang lebih tua maka dia bukan termasuk golongan kami.” [HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad].

3. Memenuhi kebutuhan mereka

       Didalam berteman hendaklah kita saling memiliki tenggang rasa dan perhatian antara satu sama lain. Memenuhi kebutuhan disini maksud nya memahami teman secara lebih mendalam. Istilah nya sebagai teman harus saling peka, mana yang di sukai mana yang tidak di sukai, mana yang di inginkan mana yang tidak. Pada inti nya rasa saling memahami sesama teman itu harus ada.

4. Tolong menolong dalam perkara kebaikan

       Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk saling berta’awun (bekerja sama) di dalam kebajikan dan ketakwaan, dan melarang dari saling berta’awun di dalam perbuatan dosa dan permusuhan.

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman :

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [al-Ma’idah/5 : 2]

5. Tidak merepotkan mereka

       Sesama teman hendaklah kita saling tolong menolong, saling membantu baik suka maupun duka. Oleh karena itu berusahalah untuk tidak saling menyusahkan sesama teman. Karena menyusahkan orang lain atau membuat orang lain menjadi tidak nyaman dengan kita itu bukan lah sifat yang baik. Kondisi itu hanya akan membuat perpecahan.

    Ketika kita membutuhkan pertolongan teman atau pun orang lain maka pertimbangkan terlebih dahulu, apakah kondisi orang tersebut bisa membantu kita atau sebaliknya. Ketika orang itu merasa kerepotan untuk menolong kita maka hendaklah berhenti secepat mungkin, karena sesungguhnya menyusahkan dan merepotkan teman itu tidak baik

6. Menutupi kekurangan teman

Rasulullah S.A.W bersabda :

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ فِي الدُّنْيَا يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ عَلَى مُسْلِمٍ فِي الدُّنْيَا سَتَرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa yang meringankan (menghilangkan) kesulitan seorang muslim kesulitan-kesulitan duniawi, maka Allah akan meringankan (menghilangkan) baginya kesulitan di akhirat kelak. Barangsiapa yang memberikan kemudahan bagi orang yang mengalami kesulitan di dunia, maka Allah akan memudahkan baginya kemudahan (urusan) di dunia dan akhirat. Dan barangsiapa yang menutupi (aib) seorang muslim sewaktu di dunia, maka Allah akan menutup (aibnya) di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selalu ia menolong saudaranya.” [HR. Tirmidzi]

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak.” [Shahih Muslim]

7. Saling menasehati dan mendo'akan sesama teman

       Saling menasihati merupakan salah satu sifat dan akhlak mulia yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Nasehat adalah mengajak orang lain untuk melaksanakan sesuatu yang mengandung mashlahat atau mencegahnya dari mengerjakan sesuatu yang mengandung mudarat.

       Peran nasehat amat penting dalam mewujudkan kebaikan dan kedamaian. Apabila sesama muslim saling memberikan nasihat, niscaya persaudaraan mereka akan semakin kokoh. Asalkan nasihat tersebut diberikan ikhlas karena Allah serta didorong oleh rasa kasih sayang dan perhatian besar agar saudaranya mendapatkan kebaikan.

Nabi Nuh ‘alaihissalam misalnya sering sekali berkata kepada kaumnya dalam rangka menasihati mereka.

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاَتِ رَبِّي وَأَنصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللّهِ مَا لاَ تَعْلَ

“Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS Al-A’raf [7]: 62)

Begitu juga dengan hal nya saling mendoakan sesama teman. Dari Abu Bakar Ash Shidiq radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

“إن دعوة الأخ في الله تستجاب”

“Sesungguhnya do’a seseorang kepada saudaranya karena Allah adalah do’a yang mustajab (terkabulkan).“

(Shohih secara sanad)

8. Mendamaikan teman jika terjadi perselisihan

       Pernah mendengar kata Al-Ishlah ? Al-Ishlah sering diartikan dengan “perbaikan” atau “memperbaiki”. Jika kita menengok pada tujuan utama dari dakwah para nabi, maka sejarah membuktikan bahwa tujuan mereka adalah Al-Ishlah, atau memperbaiki kondisi umat. Seperti perkataan Nabi Sholeh as yang diabadikan dalam Al-Qur’an berikut ini,

إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ

“Aku hanya bermaksud (melakukan) perbaikan semampuku.” (QS.Huud:88)

       Nabi Sholeh ingin memfokuskan bahwa tujuan dari jerih payah dan usahanya selama ini hanya untuk memperbaiki kondisi umat manusia, semampunya. Dan seluruh nabi pun punya tujuan yang sama. Dan kali ini, kita akan mendalami makna Al-Ishlah dalam Al-Qur’an.

     Perjuangan mendamaikan saudara muslim yang sedang berselisih merupakan ciri orang yang beriman,karena setiap orang yang beriman itu satu,yaitu satu persaudaraan dalam islam dan iman.

Allah berfirman:

{ إنما المؤمنون إخوة فأصلحوا بين أخويكم}

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah saudara,maka damaikanlah diantara dua saudara kalian (dua orang yang sedang berselisih)".

         Mendamaikan dua orang yang sedang berselisih adalah sebuah kewajiban atas orang yang beriman,karena hal itu di tunjukan dari shighoh amr (kata perintah) فأصلحوا, dan setiap dalil yang ada didalam al qur'an maupun dalam as sunnah yang mempergunakan kata perintah menunjukan hal itu adalah wajib, sebagaimana di jelaskan dalam ilmu ushul fiqh.

       Mendamaikan dua orang yang sedang berselisih merupakan shodaqoh yang besar pahalanya. Sebagaimana di jelaskan hadits nabi shollaallahu 'alaihi was sallam :

وعن أَبي هريرة رضي اللَّه عنه قال : قال رسول اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « كُلُّ سُلامى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ : تَعْدِلُ بيْن الاثْنَيْنِ صَدقَةٌ ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتحْمِلُهُ عَلَيْهَا ، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعهُ صَدقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيبةُ صدقَةٌ ، وبكُلِّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاةِ صَدقَةٌ ، وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ » متفق عليه

"Dari sahabat abu huroiroh semoga allah meridhoinya dia berkata,rosululloh shollaallahu 'alaihi was sallam bersabda : "Setiap persendian dari manusia yang ada padanya ada shodaqohnya setiap hari bersamaan terbitnya matahari : mendamaikan antara dua orang yang berselisih (harus adil,tidak berpihak) adalah shodaqoh,kamu menolong seseorang menaikan bawaan kekendaraannya,atau kamu membantu mengangkat perbendaharaan (yang dibawa) adalah shodaqoh,dan kalimat yang baik adalah termasuk shodaqoh,dan setiap langkah kaki menuju sholat (sholat berjamaah ke masjid) adalah shodaqoh,dan kamu menyingkirkan gangguan dari jalan adalah shodaqoh" (HR.Albukhori&muslim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eleven + 9 =