Adab – Adab Bermajelis

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengajarkan bagaimana cara berinteraksi dengan masyarakat dalam sebuah majelis [pertemuan] yang dalam bahasa modernnya disebut meeting.

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ} [المجادلة: 11]

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”. Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”. Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [QS. Al-Mujadilah: 11]

Diantara adab-adab bermajelis adalah sebagai berikut :

  1. Orang yang datang ke majelis hendaklah mengucap salam.

Sebagaimana firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS An Nuur : 27)

Mengucapkan salam kepada ahli majelis jika hendak masuk dan duduk pada majelis tersebut, hendaknya kita mengikuti majelis tersebut hingga selesai. Jika hendak meninggalkan majelis tersebut, harus meminta izin kepada ahli majelis lalu mengucapkan salam. Telah disebutkan kepada kita, adab-adab mengucapkan salam, dan penjelasan bahwa termasuk amalan yang sunnah adalah mengucapkan salam kepada orang-orang yang berada di suatu majelis ketika mendatangi mereka dan ketika hendak pergi meninggalkannya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Apabila seseorang di antara kalian mendatangi suatu majelis hendaknya dia mengucapkan salam, dan apabila dia bekeinginan untuk duduk maka duduklah, kemudian apabila dia hendak berdiri pergi, maka sesungguhnya yang pertama tidaklah lebih utama dari pada yang terakhir.” [HR. At-Tirmidzi]

2. Tidak duduk ditengah majelis

Rasulullah melaknat orang yang duduk di tengah-tengah halaqoh.” (Abu Dawud)
Tidak memisahkan dua orang yang sedang duduk agar ia dapat duduk di tengahtengahnya, kecuali dengan seizinnya, sebagaimana dalam hadits Rasulullah :

لا يح ّ ل لرجل أن يفرق بين إثنين إلا بإذا

Tidak halal bagi seorang laki-laki duduk di antara dua orang dengan memisahkan mereka
kecuali dengan izinnya.
” (HR Abu Daw ud dan Turmudzi, hadits Hasan)

Ini merupakan adab nabawiyah yang sangat agung. Yaitu melarang seseorang duduk di antara dua orang kecuali dengan izin mereka berdua. Dan sebab larangan itu: bahwa bisa jadi antara kedua orang tersebut terjalin kecintaan dan kasih sayag dan telah terikat hal-hal yang rahasia serta amanah, maka pemisahan mereka berdua dengan duduk di antara keduanya akan membuat keduanya keberatan. Demikian disebutkan didalam ‘Aun Al-Ma’bud.

3. Diam dan mendengarkan.

Sabda Nabi صلی الله عليه وسلم : “Janganlah dua orang saling berbisik – bisik dengan meninggalkan orang ketida sebab hal itu dapat membuatnya sedih.” (Muttafaq ‘alaihi).

Di dalam Al-Lisan, disebutkan bahwa an-najwa: Adalah pembicaraan rahasia antara dua orang. Jika dikatakan: Najautu najwan maknanya saya berbicara rahasia dengannya. Demikian juga dengan kalimat: Najautuhu. Dan kata bendanya adalah an-najwa. At-tanajau yang terlarang adalah dua orang yang berbicara rahasia tanpa melibatkan orang yang ketiga. Sebab larangan itu, agar kesedihan tidak meresapi hati orang yang ketiga karena melihat dua rekannya yang berbicara dengan rahasia.

Sementara syaithan sangatlah bersemangat untuk memasukkan kesedihan, was-was dan kebimbangan di dalam hati seorang muslim. Ada larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari perbuatan itu yang dengan begitu akan memotong setiap jalan syaithan. Dan agar supaya seorang muslim tidak berprasangka buruk kepada para saudaranya.

4. Jika hendak bebicara hendaknya memintak izin (berbicara yang makruf).

Jika didalam suatu majelis kita hendak berbicara, sebaknya mintalah izin kepada majelis terlebih dahulu agar terlihat sopan dan tidak menyalahi aturan dalam bermajelis yang baik. Telah ada ancaman yang keras bagi seseorang yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum sementara mereka tidak menyukainya. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang menceritakan suatu mimpi yang tidaklah dilihatnya maka dia akan dibebankan untuk menyatukan dua biji gandum namun tidak melakukannya. Dan barangsiapa yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum sementara kaum tersebut tidak menyukainya ataukah mereka menjauh darinya, maka akan dituang ketelinganya timah cair pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menggambarkan gambar, maka dia akan diazab dan akan dibebani kepadanya untuk meniupkan ruh pada gambar tersebut sementara dia tidak dapat meniupkannya.” [HR. Al-Bukhari: 7042]

Hanya saja larangan tersebut terbatas jika kaum tersebut tidak menyukai hal itu. Dan tidak termasuk dalam larangan itu apabila mereka meridhainya. Dan juga tidak termasuk apabila perbincangan mereka secara keras hingga yang berada disekitarnya mendengarkan. Karena seandainya mereka hendak menyembunyikan pembicaraan mereka tidaklah mereka mengeraskannya.

5. Mengisi saf/barisan terdepan

Jika suatu jamaah duduk di sebuah majlis, lalu ada orang yang baru datang sedangkan tempatnya sempit, maka mereka hendaknya memberikan kelapangan semampunya. Allah Subhaanahu wa Ta’aala berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majlis,” maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Terj. Al Mujadilah: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”

Sebaik-baik majlis adalah yang paling lapang.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dll, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 3285)

6. Tidak memberdirikan orang yang sudah duduk terlebih dahulu.

Dari hadits yang diriwayatkan Abi Waqid diatas juga dapat diambil pelajaran tentang kesunahan membuat halaqah pada majelis Dzikir dan majelis ilmu. Seseorang yang lebih dahulu datang pada suatu tempat, maka ia lebih berhak atas tempat itu. Hadits ini juga menjelaskan kesunahan beretika dimajelis ilmu dan keutamaan mengisi tempat-tempat yang kosong dalam suatu halaqah. Diperbolehkan bagi seseorang melangkahi untuk mengisi tempat yang kosong, selama tidak menyakiti. Apabila dikhawatirkan menyakiti maka disunahkan duduk dibarisan terakhir. Sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang kedua ada hadits riwayat Abi Waqid.[11]
Hendaknya mencari tempat duduk yang belum terisi dan jangan sekali-kali menyingkirkan orang lain dari tempat duduknya, agar suasana tetap tenang dan orang lainpun tidak tersinggung.

7. Jika seseorang anggota majelis keluar sampai dia kembali maka orang tersebut lebih berhak atas tempat duduknya.

Bagaimana jika ada yang keluar dari tempat duduknya Karena suatu hajat kemudian ada yang mengambil tempatnya entah yang mengambil ini tahu atau tidak mengetahui bahwa tempat tersebut sudah ada yang miliki..?

Maka, jika ia kembali ke tempat tersebut ia berhak untuk duduk ditempat tersebut walaupun ada yang mengambil tempat tersebut, sebagian ulama mengatakan walaupun ia tidak menyimpan tanda sebagai isyarat bahwa tempat tersebut sudah ada yang punya, maka ia berhak untuk duduk lagi ditempat tersebut. Akan tetapi yang lebih baik adalah ia menyimpan sesuatu sebagai isyarat karna dikhawatirkan hanya pengakuan tanpa bukti dan saksi hal ini bisa menimbulkan pertikaian.

Mendahulukan orang lain dalam persoalan ibadah adalah merupakan hal yang tidak dibolehkan sebagaimana kebanyakan di Indonesia ketika waktu sholat telah tiba, padahal ia bisa mengambil shaff terdepan namun ia mempersilahkan orang lain untuk berada di Shaff terdepan maka hal seperti ini tidak dibolehkan karna setiap manusia menginginkan shaff terdepan untuk mendapatkan ketinggian derajat di sisi Allah Subhanahu wata’ala dalam hal berlomba – lomba dalam kebaikan.

Sahabat Abdullah Bin Umar Radhiyallahu anhuma karna kehati-hatian beliau dalam mengamalkan hadist tersebut ketika ada orang yang pergi dari majelisnya maka tempat yang kosong tersebut beliau biarkan dan tidak mau mengambil tempatnya karna khawatir orang tersebut kembali ke tempatnya, bahkan lebih dari itu sebagian ulama Imam Nawawi Rahimahullah dan yang lainnya memahami hadist tersebut bahwa Abdullah Bin Umar Radhiyallahu anhuma datang dalam suatu majelis lalu ketika ada yang melihat beliau maka ia mempersilahkan duduk ditempatnya namun beliau tidak mau dan mengatakan anda yang lebih berhak, apakah hal tersebut lebih tepat, maka ulama kita mengatakan:”Boleh mengambil tempatnya karna dipersilahkan dan tidak ada unsur mendzalimi”, lalu mengapa Abdullah Bin Umar Radhiyallahu anhuma tidak mengambil tempatnya tersebut hal ini menunjukkan sifat waro dan kehati – hatian yang luar biasa dari sahabat yang mulia Abdullah Bin Umar Radhiyallahu anhuma. Ada sebagian ulama mengatakan memang begitulah hukumnya karna yang meriwayatkan hadist tersebut adalah Abdullah Bin Umar Radhiyallahu anhuma dan beliau yang lebih tahu bagaimana cara mengamalkan hadist tersebut. Namun apabila ada seseorang yang mempersilahkan duduk ditempat tersebut maka tidak mengapa menurut pendapat jumhur ulama dan adapun yang dilakukan oleh Abdullah Bin Umar Radhiyallahu anhuma menunjukkan kemuliaan beliau dan kehati – hatian beliau. Wallahu A’lam Bish Showab.

8. Hendaknya orang yang duduk di majelis memperhatikan perkara perkara sbb :

a. Duduk dengan tenang
b. Tidak membersihkan gigi
c. Tidak banyak bergerak
d. Tidak berbuat “abbas” (berbuat hal hal yang tidak bermanfaat).

Termasuk didalamnya menghormati kepada orang orang yang ada disekeliling majelis, tidak memutus pembicaraandan menunjukan jari sebelum berpendapat.

9. Jika hendak bubar dari majelis hendaknya membaca doa kaffarotul majelis

dan kami jadikan mereka leader atau pemimpin karena kesabaran mereka

Barang siapa yang curang bukan termasuk umat kami (gandumkering dan basah dicampur)

Akhlak Rasull tidak pernah berkata kotor dan Rasull adalah yang paling baik akhlak nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

16 − six =